Kecemasan Menghadapi Kekacauan Agroklimat
Oleh Adig Suwandi
Cuaca ekstrem dan kekacauan agroklimat sepanjang 2010 membuat babak belur sejumlah sasaran strategik dalam perencanaan pertanian, berupa peningkatan produksi yang berkelanjutan dan berkemampuan menopang kesejahteraan para petani mengelola usahannya, baik pada tataran global, nasional, maupun lokal.
Masa tanam menjadi titik krusial yang paling tidak bisa ditebak kejelasannya. Tidak mengherankan begitu stok terbatas, meski Lebaran sudah usai, melambungnya harga sejumlah komoditas pertanian primer tak dengan serta-merta mengangkat pamor kehidupan petani.
Jasad pengganggu tanaman bermunculan di mana-mana, bahkan di Kabupaten Kediri, tingkat serangannya untuk padi meningkat lebih dari 70 persen atau dari 456 hektar (2009) menjadi lebih 776 hektar (2010). Setidaknya terdapat 4 jenis jasad pengganggu yang menjadi momok bagi petani padi Kabupaten Kediri, yakni penggerek batang, hawar daun bakteri, wereng batang coklat, dan Pycularia atau blast.
Intensitas serangan yang meningkat luar biasa, misalnya, dapat dicermati dari perbandingan areal pertanaman padi yang terkena bakteri hawar daun dari 335,5 hektar (2009) menjadi 419,69 hektar (2010) dan hama wereng coklat dari 40,22 hektar menjadi 57,04 hektar untuk periode sama (Kompas edisi Jawa Timur, 27/9/2010).
Kekacauan agroklimat menyebabkan rusaknya daun tembakau. Petani tembakau terpaksa gigit jari saat harga melambung tinggi dan sejumlah pabrikan rokok kesulitan mendapatkan bahan baku. Implikasi luas dan tidak kalah sengitnya juga mereduksi hasil panen tebu rakyat.
Kendati harga jual gula petani melampaui Rp. 9.100 per kg, penurunan produktivitas khususnya yang berasal dari rendemen membuat mereka harus berkalkulasi ulang tentang biaya yang harus dialokasikan untuk perbaikan mutu. Mereka tahu bahwa pada dasarnya, rendemen dibentuk di kebun melalui aktivitas fotosintesis yang melibatkan reaksi biokimia sangat kompleks antara karbondioksida dan air di bawah pengaruh radiasi matahari.
Hasil akhir berupa glukosa ditransformasikan ke seluruh batang tebu otomatis berkorelasi positip terhadap lama dan intensitas penyinaran matahari. Masa tanam, varietas, pemanfaatan agro-inputs, penerapan agroekoteknologi sesuai best practices, dan manajemen panen akan sangat menentukan hasil tanaman setelah ditebang. Pabrik hanya berperan mengambil gula dari batang tebu dan mengubahnya secara kimiawi menjadi bentuk kristal.
Belajar dari pengalaman empirik terkait pengelolaan perubahan iklim, yang dapat dilakukan manusia hanyalah menyiasatinya sebaik dan searif mungkin melalui pemanfaatan teknologi. Teknologi memungkinkan dihasilkannya sejumlah varietas tanaman adaptif terhadap berbagai gejolak air. Bioteknologi memberi harapan besar dihasilkannya berbagai macam varietas yang bahkan tidak hanya mampu beradaptasi terhadap anomali cuaca, melainkan juga menyintesa pupuk secara biologis.
Tentu untuk dapat menghasilkan varietas dan agroekoteknologi sangat tidak rasional kalau hanya mengandalkan ketekunan dan keuletan para petani. Diperlukan penelitian secara kontinu untuk menghasilkan semuanya. Negara melalui kekuasaan dan dana dimiliki sudah seharusnya berperan lebih aktif dalam penelitian terapan yang hasil-hasilnya diharapkan dapat segera dimanfaatkan para petani, khusus untuk basis ketahanan pangan bangsa.
Lingkungan makro dan mikro
Prinsip dasar pengelolaan tanaman (crop management) sendiri rasanya belum berubah, namun diperlukan adaptasi seperlunya karena lingkungan makro dan mikro telah mengalami perubahan secara frontal. Lingkungan makro dimaksud adalah perubahan iklim global akibat deforestrasi dan meningkatnya emisi gas karbon oleh industri modern.
Recovery atas kerusakan lingkungan memerlukan upaya pemulihan dengan biaya besar dan jangka waktu relatif lama, sementara tindakan tersebut berjalan sudah disusul dengan kegiatan destruktif atas nama pertumbuhan ekonomi.
Adapun lingkungan mikro mencakup ekologi tanaman itu sendiri yang dibentuk melalui konstruksi alami dan intervensi manusia dalam bentuk pengolahan tanah, pemberian nutrisi, dan cara budidaya. Semuanya akan berdampak terhadap ketahanan (sekaligus kerentanan) tanaman budidaya terhadap manipulasi cuaca yang silih berganti. Teknologi dipersepsikan membantu tanaman dalam mengatasi berbagai gejolak dimaksud. Kalaupun terjadi kerusakan dan penurunan produksi, diharapkan magnitude-nya tidak terlalu besar.
Para petani memang tidak dapat dibiarkan bertani dengan cara-cara tradisionalnya, meskipun kearifan lokal yang sering dilakukan terbukti mampu menolong keadaan. Bagaimana pun juga kekacauan iklim harus dilihat sebagai berkah yang memaksa manusia untuk mencari cara- cara terbaik yang dapat dipertanggungjawabkan secara sains tak bakal merusak lingkungan dan secara bisnis memberikan nilai tambah berupa profit berkelanjutan.
Kecemasan petani dalam menghadapi gejolak agroklimat harus disiasati melalui pengembangan sistem dan teknik budidaya yang lebih adaptif.
Adig Suwandi Praktisi Agribisnis, Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya
Available at: http://m.kompas.com/news/read/data/2010.10.05.15585127
No comments:
Post a Comment