Kompas | Senin, 6 Desember 2010 | 08:22 WIB
Perekonomian Jatim "Overheated?"
Oleh SOEBAGYO
Badan Pusat Statistik Jawa Timur merilis data pertumbuhan ekonomi regional Jawa Timur pada triwulan III tahun 2010 setinggi 7,14 persen (year on year). Ini sungguh angka yang amat menakjubkan, apalagi dibandingkan dengan angka pertumbuhan ekonomi nasional pada periode sama yang ”hanya” 5,8 persen.
Pemerintah Provinsi Jatim maupun para pengamat belum pernah bermimpi bahwa pertumbuhan ekonomi Jatim tahun ini melebihi 7 persen. Angka 7 persen baru akan ditargetkan pada tahun 2011 atau 2012. Pemerintah pusat bahkan baru berani menargetkan pertumbuhan 7 persen pada tahun 2014, bertepatan dengan berakhirnya masa pemerintahan kedua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Pasangan pertumbuhan ekonomi biasanya perkembangan inflasi. Bagaimana di Jatim? Laju inflasi (yoy) adalah 5,94 persen.
Kajian Ekonomi Regional (KER) Bank Indonesia Surabaya bahkan menyebutkan laju inflasi triwulan III 2010 mencapai 6,31 persen, angka yang sudah melebihi angka target inflasi yang dipatok pada 5 persen plus-minus 1 persen atau tidak lebih dari 6 persen sepanjang 2010. Memang angka ini hanya angka laju inflasi untuk tujuh kota di Jatim. Namun, ketujuh kota itu dianggap cukup mewakili Jatim karena merupakan kota-kota penting.
Faktor-faktor pembentuk pertumbuhan ekstra tinggi perekonomian Jatim ini seperti biasa masih dimotori pertumbuhan sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR) sebesar 13,71 persen, disusul sektor pertambangan dan penggalian (9,28 persen) serta transportasi dan komunikasi (8,41 persen).
Sementara sektor ekonomi yang diharapkan menjadi tulang punggung ekonomi Jatim, yaitu pertanian, hanya tumbuh 2,34 persen dan sektor industri pengolahan hanya tumbuh 3,87 persen. Kedua sektor juga hanya memberikan kontribusi sebagai sumber pertumbuhan 0,44 persen (Januari-September) untuk sektor pertanian dan 0,96 persen untuk industri pengolahan.
Ibarat balapan atau adu cepat, sektor yang memberikan sumbangan pertumbuhan terbanyak adalah PHR, industri pengolahan nomor dua dan pertanian nomor empat.
Inflasi yang melaju sampai 6,31 persen menurut KER atau 5,94 persen menurut BPS masih menyisakan bulan November dan Desember dengan peristiwa spiritual Idul Adha dan Natal serta Tahun Baru, yang biasanya ditandai peningkatan harga, terutama bahan makanan. Hal ini pasti akan menjadikan laju inflasi lebih tinggi.
Rakyat kecil
KER menyebutkan, sumbangan pembentukan laju inflasi tertinggi adalah bahan makanan dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok, serta tembakau. Skenario ini confirm dengan faktor pendorong pertumbuhan ekonomi, yang juga masih ditarik dominasi konsumsi.
Tarikan konsumsi bukanlah hal yang buruk. Tarikan konsumsi juga menandakan telah terjadi kenaikan rata-rata kesejahteraan rakyat karena rakyat mengonsumsi barang dan jasa dalam nilai rata-rata semakin tinggi. Di tingkat nasional maupun di banyak negara, skenarionya juga sama.
Data BPS menunjukkan laju pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto (yoy) sebesar 6,6 persen atau berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 1,15 persen dan menjadi 0,39 (ctc). Angka yang menggembirakan terjadi pada periode Januari–September 2010 dibanding dengan Januari–September 2009, sebesar 551,81 persen, dan berkontribusi terhadap pertumbuhan sebesar 2,15 persen.
Angka-angka ini mengindikasikan bangkitnya perekonomian Jatim secara benar karena lebih didorong pertumbuhan investasi (stock of capital) atau menandakan terjadinya pertambahan kapasitas produksi di daerah ini walaupun masih kalah dengan kontribusi konsumsi sebagai pembentuk pertumbuhan yang besarnya 4 persen dan ekspor sebesar 5,01 persen.
Pertumbuhan ekonomi memang menjadi harapan semua pemangku kepentingan ekonomi. Pertumbuhan mengindikasikan adanya penciptaan nilai tambah ekonomi, yang semakin tinggi semakin bagus. Walapun demikian, masih harus dipersoalkan apakah pertumbuhan itu membawa berkah terwujudnya peningkatan kesejahteraan rakyat atau pertambahan nilai tambahnya hanya dinikmati segelintir orang melalui entitas bisnis masing-masing.
Hal terbaik adalah pertumbuhan tinggi, tetapi faktor pembentuk pertumbuhannya berasal dari usaha rakyat dan inflasinya rendah. Karena itu, janganlah terlalu senang dengan pertumbuhan tinggi tetapi diikuti inflasi tinggi. Upaya menekan laju inflasi menjadi sangat penting untuk menjaga momentum pertumbuhan tinggi bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan rakyat melalui penciptaan lapangan pekerjaan (investasi, bukan konsumsi), penurunan jumlah penganggur, peningkatan pendapatan, dan pada akhirnya menurunkan jumlah orang miskin secara berkelanjutan.
Soebagyo --Pengamat Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair
available at http://cetak.kompas.com/read/2010/12/06/08221239/perekonomian.jatim.overheated
No comments:
Post a Comment